Saya Dian Ara, ADHD, dan Butuh Bantuan

Saya tahu saya beda dari kebanyakan orang. Dan, perbedaan itu bikin saya menderita tiap hari. Dan, karena itu, saya cari solusinya. Yang ternyata, cukup menyita waktu, energi, dan kesabaran. Setelah bertahun-tahun gonta-ganti terapi dengan 2 psikolog dan 3 psikiater, akhirnya saya ketemu psikiater yang memberikan diagnosis paling pas dengan segala gejala yang saya rasakan: ADHD alias Attention Deficit Hyperactivity Disorder.

Continue reading Saya Dian Ara, ADHD, dan Butuh Bantuan

Grup Whatsapp untuk Mendampingi Bullet Journal

Untuk menjaga produktivitas, saya pakai Bullet Journal. Sistem manajemen waktu dan proyek rancangan Ryder Carroll ini paling enak diterapkan di buku catatan, yang tentu saja saya bawa ke mana-mana. Tapi, ada kalanya saya terlalu malas atau sulit mengeluarkan buku dari dalam tas. Solusinya, aplikasi HP.

Pilihan saya jatuh pada Whatsapp. Satu grup di mana adminnya adalah saya, anggotanya adalah saya, dan kontennya dari saya untuk saya.

Eh, gimana?

Kenapa Repetisi Menyenangkan?

Saya pernah kecanduan Farmville 2: Country Escape. Sampai kemudian diprotes suami, “Main game jangan yang repetitif gitu dong.” Baiklah. “Sana main Stardew Valley aja!” BAIKLAH. *langsung beli Nintendo Switch

Belum tahu saja dia…

Menabung dengan Tujuan Lebih Menyenangkan

Dulu, saya belajar satu ilmu penting dari Safir Senduk soal tujuan keuangan: “Menabunglah sebelum belanja.” Kebiasaan ini mengatasi impulsivitas saya. Asalkan sudah menabung, sisanya boleh saya pakai untuk foya-foya. Tanpa rasa bersalah.

Masalahnya, menabung tanpa tujuan itu kurang efektif. Saya cuma memasukkan uang ke tabungan biasa, yang lama-lama pasti tergerus inflasi. Bok, biaya admin saja lebih besar dari bunganya!

Gimana dong?

The Game of Life by Dian Ara (@heyDian) #TEDxJakarta 2017

Seperti yang pernah saya janjikan, berikut ini video di mana saya berbicara di panggung TEDxJakarta 2017.

Dalam kesempatan tersebut saya buka-bukaan aib bercerita tentang:

  • Bagaimana saya semasa kecil merayu nenek dan tante agar membelikan yang saya mau
  • Bagaimana saya mendapatkan beasiswa dari SMA favorit di Surabaya ketika aslinya nggak ada penawaran beasiswa
  • Bagaimana saya lulus SMA ketika pendidikan saya–satu-satunya anak perempuan dari 5 bersaudara–jelas-jelas bukan prioritas bagi mama papa yang kondisi finansialnya menyedihkan
  • Bagaimana saya memasuki industri game Indonesia, padahal ijazah baru SMA
  • Bagaimana saya belajar freelance jauh lebih cepat ketimbang kebanyakan freelancers pemula

Jujur saja, saya nggak pernah nyaman tampil di depan banyak orang. Selfie pun jarang banget. Terasa surreal nonton video di mana wajah saya mendominasi layar. Untung nggak ada bulu hidung yang overlap ya.

Walau begitu, yang membanggakan justru momen yang tampak di detik terakhir video tersebut: Aulia Masna ngakak dan istrinya, Andina Masna, bertepuk tangan. I mean, c’mon, it’s THE Aulia Masna! Bisa bikin dia ngakak mah achievement yang lebih besar daripada tampil di TEDxJakarta! *dikeplak kurator

So, enjoy the video. Semoga pengalaman yang saya ceritakan bisa membantu Anda menjalani kehidupan. Atau, minimal terinspirasi untuk mengakali segala situasi yang perlu diakali.

Pertanyaan Terbaik saat Belajar Game Design (atau Apa Pun)

Pertanyaan yang diajukan kebanyakan pemula di komunitas Game Developer Indonesia (GDI) bisa dikelompokkan menjadi 2 macam. Yang paling cerdas, “Pengen bikin game, kemampuan apa yang saya perlu miliki?” Sementara yang paling oneng, “Gimana caranya bikin game?” bisa bikin para senior di GDI mendadak migren.

Gimana dong?