Topeng Kardus di Pasar Seni ITB 2014

Beli Itu Kalah

Beberapa minggu lalu, saya sempat membaca tulisan Glenn Marsalim yang dimuat di Linimasa. Tentang gimana orang-orang jadi “lumpuh” karena terbiasa “membeli”. Saya sendiri pernah menyaksikan betapa kagetnya murid saya setelah dia nanya, “Lagi ngapain, Pak?” dan saya jawab, “Ngejahit baju.” Pernah juga, ketika saya dan teman-teman sekantor mengenakan topeng kardus di Pasar Seni ITB 2014, banyak pengunjung lain yang berkomentar, “Topengnya bagus. Beli di mana?” Tapi, begitu tahu topeng-topeng itu buatan kami sendiri, ketertarikan mereka langsung menguap. Pedih ya.

Menjahit. Banyak yang kurang tahu, menjahit adalah salah satu survival skill. Sandang adalah bagian dari 3 kebutuhan pokok manusia, dan kemampuan menjahit salah satu penopangnya. Kekagetan murid saya begitu dia tahu saya bisa menjahit adalah indikasi ketidaktahuan itu. Mungkin, karena tidak pernah mengalami bencana, pemahaman kita akan survival skill jadi kurang terasah.

Pasar Seni ITB. Di mana berbagai karya seni dan objek seni dipamerkan. Asumsi saya, sebagian pengunjung merasa bisa membeli apa pun di sini. Sementara saya merasa kurang sekali jumlah stan yang menampilkan kegiatan DIY, yang bisa dipraktikkan langsung di lokasi. Padahal, justru di acara-acara semacam Pasar Seni itulah semangat DIY seharusnya muncul.

Topeng Kardus di Pasar Seni ITB 2014
Pasar Seni ITB 2014 – Banyak yang nanya, “Topengnya beli di mana?” Nggak ada yang nanya, “Bikinnya gimana?”

Beberapa minggu belakangan, saya dan istri berusaha melakukan sesuatu yang baru tiap weekend. Apa pun hasilnya, gimana pun rupanya, nggak masalah. Kami berusaha bikin sesuatu yang kami butuhkan dan/atau inginkan. Yang fungsional dan/atau yang indah. Kami menyebutnya “Fun Weekend”. Menyenangkan karena tidak bisa didapatkan dengan membeli. Menyenangkan karena capek, bingung, frustrasi, dan beragam emosi lainnya yang muncul sepanjang prosesnya, berbalik jadi kemenangan begitu melihat hasil jadinya.

Fauxdori V1
Prototype Fauxdori, replika Midori Traveler’s Notebook, yang dibikin istri saya dari kulit kayu, tali masker, dan beberapa Moleskine Cahier.

Saya tidak pernah melarang siapa pun untuk membeli barang-barang yang memang dibutuhkan atau diinginkannya. Saya juga tidak ingin mengecam orang-orang yang hanya bekerja demi uang. Tapi, setidaknya, dalam hidup yang sangat singkat ini, sesekali cobalah bikin sendiri barang-barang itu. Menjawab pertanyaan teman saya, “Experiences vs Things?,” kita bisa mendapatkan keduanya alih-alih memilih salah satu. Kalau Anda punya anak, bikin bareng yang lucu-lucu seperti paper automata pasti seru. Plus, bisa jadi kemampuan Anda bertambah. Mayan kan? 🙂

Making is fundamental to what it means to be human. We must make, create, and express ourselves to feel whole. There is something unique about making physical things. These things are like little pieces of us and seem to embody portions of our souls.

~Maker Movement Manifesto

“Lho, tapi kan Mas Ibnu dan Mbak Dian enak. Kerjaannya udah create something, jadi nggak terlalu jauh sama kerjaan.” Mungkin ada yang berkomentar begini?

Saya programmer. Istri saya game designer. Kerjaan kami jauh sekali dari jahit-menjahit dan bikin topeng kardus lho. 😐

Pen Holder dari Karet Kolor
Istri saya pernah bikin pen holder dari karet kolor seharga 4 ribuan per meter. 5 menit jadi.

“Tapi kan Mas Ibnu dan Mbak Dian dapet jatah waktu bebas dari kantor untuk melakukan hal-hal GEJE!” Iya, nggak semua orang bisa mendapatkan fasilitas semacam ini dari kantornya. Tapi, kalau memang mau, meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan GEJE semacam yang ada di Inmotion itu seharusnya tidak susah. Kreasinya juga tidak perlu yang susah-susah. Toh kita hidup di zaman web 2.0, di mana jutaan orang bisa berkreasi dan berbagi panduannya dengan cepat, lalu kita bisa mengaksesnya dengan gampang. Kalau mau…

Be human, make something.

~ibnutri

3 thoughts on “Beli Itu Kalah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *