Battle of Ndasmu!

Setelah sembuh dari wabah flu yang melanda kantor, lalu berkutat dengan tumpukan kerjaan, akhirnya semalem saya dan kakanda punya sedikit waktu luang untuk nonton film di Blitz. Ada 2 judul yang saya incer: Inside Out (karya Pixar) dan Battle of Surabaya (karya anak bangsa bapak emaknya). Tapi, seperti biasa, pilihan akhir jatuh pada film apa pun yang jadwalnya cocok dengan jam berapa saya nyampe PVJ. Berhubung ternyata Blitz cuma nayangin Inside Out, ya udah, Inside Out.

Overall, Inside Out memuaskan. Karena:

  • Ceritanya relatableΒ dengan saya yang tertarik banget samaΒ neuroscience
  • Animasinya, terutama palet warna, menyenangkan buat mata saya
  • Humornya juga bisa saya pahami, mungkin gegara metaforanya (bagi saya yang rajin baca artikel penelitian neuroscience) masuk akal

Pas pulang, saya bertekad, “Ah, semoga minggu depan masih sempet nonton Battle of Surabaya.” Mengingat saya lahir dan besar di Surabaya, “Siapa tau nih pelem bisa mengobati kangen pada kampung halaman.”

Nyampe kosan, pikiran saya berubah dikit, “Kayanya mending wiken deh ya. Gpp lah beli tiket mahalan dikit, entar duit jajan Lays bisa dikurang-kurangin. Daripada keburu nggak ditayangin lagi, trus nyesel. Pelem Indonesia mah kudu ditonton di bioskop. Kalau nggak, mau nonton di mana? Blom tentu si sineas mau ngerilis DVD. Pelem Hollywood mah gampang aksesnya. Dikit lagi juga muncul DVD-nya di Gramed.”

Begitulah kira-kira isi benak saya semalem. Nggak ada babar blas saya mikir, “Wogh, Inside Out ciamik puolll karena karya Pixar!” atau, “Pokoke kudu nonton Battle of Surabaya karena dukung karya anak bangsa!”

Saya pengen nonton keduanya simply karena:

  • Saya suka banget nonton film, bahkan boleh dibilang saya lebih suka film ketimbang game dan buku sebagai media hiburan
  • Animasi adalah salah satu genre favorit saya
  • Ceritanya sepertinya relatable dengan kehidupan saya
  • Trailer-nya memikat

Lalu, tadi siang saya baca mensyen Twitter dari seorang teman.

Dari percakapannya, sekilas muncul info bahwa ada drama “nasionalisme” yang dipicu oleh tim marketing Battle of Surabaya. Setelah stalking dikit, nemu lah official FB fanpage-nya. Stalking dikit lagi. Dan langsung kecewa. Loh?

YA GIMANA YA KALAU CARA JUALANNYA NGAJAK RIBUT SEKAMPUNG.

Pertama, terjadi seleksi komen. Komen positif di-reply dalam hitungan jam, komen negatif didiemin.

Kedua, post berikut ini… *ngurut dada Nicholas Saputra*

BoS FB Post 1 Fakta Pertaruhan Harga Diri

Pesan yang saya tangkap:
Harga diri bangsa Indonesia bakal kalah (dari siapa?) kalau jumlah penonton Inside Out lebih banyak dibandingkan jumlah penonton Battle of Surabaya.

Lah, kalau saya mau nonton dua-duanya, apakah itu berarti saya berkontribusi merendahkan harga diri bangsa? Lagian, apaan sih film kok dikait-kaitkan dengan harga diri bangsa. Post tersebut menuai banyak protes. Lalu, sepertinya ya, tim marketing-nya berusaha meng-counter dengan 2 post berikutnya.

BoS FB Post 2 Fakta Wind Rises

BoS FB Post 3 Fakta Ernest Celestine

Pesan yang saya tangkap:
Sineas The Wind Rises dihargai oleh banyak penduduk Jepang karena mereka mau menontonnya. Sineas Ernest & Celestine dihargai oleh banyak penduduk Perancis karena mereka mau menontonnya. Artinya, kalau nggak banyak penduduk Indonesia nonton Battle of Surabaya, berarti sineasnya nggak dihargai.

NDASMU.

Mau main-main dengan fakta copas doang dari internet? Hayuk.

    • The Wind Rises adalah karya Ghibli, yang diakui oleh banyak animator profesional sebagai salah satu studio animasi paling inspiratif sedunia. Mereka sudah merilis banyak karya ciamik sejak 1979, salah satunya Spirited Away yang memenangkan Oscar. Tapi, kalau bukan penggemar fanatik Ghibli, pernah tahu The Castle of Cagliostro nggak? Inilah film pertama Ghibli, dirilis tahun 1979. Kalau suksesnya sebuah film diukur hanya dari penjualan tiket bioskop, inilah karya Ghibli yang paling flop. NGGAK LAKU SAAT ITU. Ironisnya, pada 2001 DVD-nya termasuk salah satu DVD anime paling laku.

Wiki Castle of Cagliostro Reception 1

Wiki Castle of Cagliostoro Reception 2

  • Ernest & Celestine adalah karya La Parti, studio animasi dari Belgia, bukan Perancis. Iya, film itu meraih nominasi Oscar. Tapi kan sineasnya bukan warga negara Perancis. Zzz.

Dari sini saya menyimpulkan,

Di awal kariernya, mungkin juga gegara modal masih pas-pasan sehingga belum sanggup marketing gila-gilaan, karya Hayao Miyazaki nggak populer. Seiring waktu, karena sering merilis karya yang makin lama makin oke kualitasnya, apalagi sejak Spirited Away menang Oscar, tentu saja nama beliau dan Ghibli makin dikenal oleh kalangan yang lebih luas. Kalau kemudian banyak penduduk Jepang yang nonton The Wind Rises, YA WAJAR TO YAAA, LAH WONG PORTFOLIO UDAH BANYAK DAN TERUJI SELAMA BERTAON-TAON. Bukan berarti suksesnya penjualan The Wind Rises gegara nasionalisme penduduk Jepang dong. Nggak relevan.

Sementara Ernest & Celestine… Aduh, sudah malas lah saya ngikutin logika tim marketing Battle of Surabaya. Lah wong karya sineas Belgia kok dikait-kaitkan dengan nasionalisme Perancis.

Dragon Ball Facepalm

Tolonglah. Kalau mau bikin karya, bikin sebagus mungkin. Kalau mau jualan karya, jualan dengan nyantai apa susahnya sih? Jlentrehkan bagusnya apa saja. Teknik animasinya kek. Ceritanya kek. Proses behind the scene yang seru kek. Nggak usah bawa-bawa nasionalisme, apalagi pakai kalimat-kalimat yang memancing guilt trip dari calon penonton. Masa nonton film di bioskop kudu dibikin berasa wajib segala? Bayar pajak noh wajib! Hih!

Oh ya, saya masih pengen nonton Battle of Surabaya. Terpikat premisnya kok. Cuma kesel lihat cara jualannya.

Oh ya lagi, jadi Mimin socmed itu nggak gampang. Tapi, begitu pesan marketing dipublikasikan di akun socmed official, lalu reaksi dan segala counter-nya bisa dibaca semua orang yang bisa mengaksesnya, yang bertanggung jawab atas persepsi publik yang ditimbulkannya ya seluruh tim marketing dong. Di sini saya ngomelin strategi marketing yang mereka pilih ya, bukan sang Mimin personally. Jangan di-bully plis.

Oh ya lagi-lagi, bagi pembaca yang gatel pengen ngomentarin post ini dengan, “Bisanya ngomel doang, udah bikin karya apaan sih lu?” saya sudah bikin lho. Namanya Angkot The Game: Gemetz, bentar lagi dirilis di international marketplaces loooh yang bisa diakses dari seluruh dunia looooh kan keren to yaaa bikin harkat, derajat, martabat, harga diri, dan tetek bangsa membesar Google Play dan iOS App Store. Jadi, entar kelar nonton, saya boleh dong ya ngomel/ngritik kalau ternyata Battle of Surabaya nggak memuaskan?

Grumpy Cat Ndasmu

Published by

heyDian

Designing games, playing life~

25 thoughts on “Battle of Ndasmu!”

    1. Mereka ngaku sih di Kick Andy (Metro TV) kalau perwakilan Disney udah ngajak ngobrol soal ini, tapi saya nggak tau saat ini udah deal atau belum. Silakan di-search di YouTube, mayan banyak kok yang upload rekamannya. πŸ™‚

  1. whaha.. ternyata ada jg yang nyadar tentang komen” negatif di postingan fb yg gk dibales sama adminnya . Btw, oke jg artikelnya mas (y) .

  2. Ya mungkin ingin menonjol diantara film-film dari luar. Tapi biasanya (biasanya lho) kalau publikasinya heboh, kadang malah kurang memuaskan. πŸ™‚
    Wah, angkot game yang dulu pernah dicoba di Jogja bukan?
    Kalau iya, saya pernah main!
    KEREN!

    1. Ada kok cara-cara lain agar produk yang dipromosikan bisa menonjol. Kalau masih ingat fenomena Ada Apa dengan Cinta, pasti paham maksud saya. Saat itu justru perfilman Indonesia sedang “bobo pules siang-siang” kan, sementara film-film Hollywood yang ditayangkan di bioskop lokal nggak berkurang gencarnya. Toh tetep aja Ada Apa dengan Cinta bikin heboh, rame banget penontonnya. Promosinya seingat saya tanpa jualan “nasionalisme” segala.

    2. Oh, ketinggalan… Kalau Angkot yang dimaksud adalah Angkot The Game: Gemetz (Android), iya, saya gabung di tim produksinya. Kalau Angkot: The Game Kudatang Lagi (3D, dirilis untuk PC), iya, itu IP milik kantor saya, Inmotion. Anyway, makasih udah nyobain main. πŸ˜€

  3. Aku belum nonton sih.. tapi udah sedikit stalk fb nya..
    menurut aku.. (mungkin)
    Ga ada sensasi.. bakal basi… ga ada provokasi.. ga asik… (mungkin itu kata para strategi marketingnya)

    Hehhehehe.. πŸ™‚

    1. Kalau itu bener, sayang banget sih. Saya justru iba sama tim produksinya, yang sudah berniat dan berusaha bikin film sebagus mungkin, kok malah dijual oleh tim marketing dengan strategi komunikasi yang berisiko dipersepsikan (minimal oleh saya ya) sebagai karya yang nggak terlalu bagus sehingga perlu bikin sensasi dulu agar banyak orang mau menontonnya.

  4. hai dian!

    im so glad bisa baca tulisan ini hahaha, saya termasuk salah satu yg komen negatif di postingan Battle of Surabaya dan dicuekin,lol..

    ijin share ya, mudah2an para “anak bangsa” yang baca kekemplang :p

    see you around ^ ^

  5. saya sampe tiap hari di kantor nyetel musik theme song studio Studio Ghibli gara2 suka aransemen musiknya Hayao Miyazaki. idola pokoknya. terkait battle of ndasmu, belom sempet nonton udah turun tahta aja di semarang.

    1. Maaf, Mas Wahyu, sekadar meluruskan kredit nih ya…

      Joe Hisaishi yang mengaransemen kebanyakan musik Ghibli. Hayao Miyazaki biasanya berperan sebagai sutradara, konseptor cerita/karakter, sekaligus founder studionya. Kadang beliau juga masakin makanan buat anak buahnya pas lembur sih. πŸ˜€

  6. Yg bilang dilirik disney dsb, itu sih terlalu dibesar2 kan. Disney yg mana jg ? Sekarang ini disney lagi mau buat channel baru, tentunya butuh banyak content donk. Ya akhirnya mrk jg asal ambil saja. Cuman buat asal2 an menuhin channel. Coba lihat yg di disney channel itu, yg jelek2 aja bisa masuk kan ? Kalau mau bilang diakui ya jauh banget. Quality nya masih sekelas anak baru lulus. Itupun banyak fresh grads yg punya lbh bgs. Kayak tukang batu bikin bangunan. Terus tukang batunya bisa disejajarin sama arsiteknya ? Btw..Animation is not a genre.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *