Amplop per Pos

Jajan Suami Dijatah Istri, Siksa atau Bahagia?

Jumat kemaren di Twitter rame tagar #SejakMenikah. Salah satu pekicau, kayanya seorang suami, ngaku merasa bagai berada dalam penjara gegara tiap hari dijatah duit jajan oleh istrinya. Kakanda pernah juga diketawain temennya, yang lajang, begitu si temen tau dia dapet jatah jajan harian. Lah? Kakanda tampaknya bahagia dengan sistem pengelolaan keuangan yang saya terapkan. Tapi, kenapa jatah jajan itu terkesan seakan menyiksa suami?

Padahal, gini lho…

Inget! Post ini sudut pandang saya, dan apa yang saya ceritakan adalah pengalaman rumah tangga saya. Tolong jangan disamaratakan dengan rumah tangga orang lain ya.

Saya blak-blakan soal bekgron dulu deh.

  1. Saya nggak suka merencanakan bujet, terutama gegara angka nggak pernah bo’ong™. Pas salah itung, keselip 1 angka aja, amburadul saldonya. Lalu, 1 angka sialan itu harus saya temukan di antara setumpuk catatan transaksi/pos belanja. Proses ini berlangsung 2-3 jam tiap bulannya. 2-3 jam yang SUNGGUH SANGAT MENYENANGKAN ANDAI SAYA GUNAKAN UNTUK MAIN DON’T STARVE. Itu sebabnya, begitu tiba saatnya merencanakan bujet bulanan, saya hela napas panjang, bikin cokelat panas dalam cangkir segede gaban, matiin volume HP, dan menyendiri di lokasi terpencil demi fokus ngitung duit nggak gampang buyar.
  2. Saya dan kakanda sama-sama nggak pernah bisa disiplin nyatet belanja, makanya sistem amplop membantu. Banget.
  3. Saya butuh bujet simply karena saya nggak bernama Paris Hilton, dan kakanda nggak punya sumur duit. Penghasilan kami terbatas. Kalau belanjanya nggak direncanakan, seringnya sih panik di akhir bulan.
  4. Kalau boleh milih, saya sih maunya nggak usah merencanakan bujet. Nggak perlu ngitung dan nyatet belanja. Nggak kudu masukin duit ke belasan amplop atu-atu. Tapi juga emoh panik di akhir bulan pas ngecek ATM, lah kok saldonya Imam Bonjol?! Nah, agar impian ini tercapai, satu-satunya solusi yang terpikirkan: Kakanda kudu bisa menghasilkan sekarung penuh Soekarno-Hatta. Tiap bulan. Sepanjang sisa hidup saya. Berhubung kakanda belum sanggup melakukannya, ya saatnya bangun dan balik lagi ke poin 1.

Bujet dan jatah-jatahan itu dilakukan oleh pasutri kelas menengah yang pengen sampe usia senja punya lifestyle bak kelas atas. Kalau beneran kelas atas, nggak usah puyeng tiap bulan bikin bujet kaleee… Sewa aja financial planner. *hmpffttt*

Berkat bujet dan jatah-jatahan tiap bulan ini, berikut pencapaian kami dalam setahun:

  • Kami berdua sudah punya asuransi jiwa dan kesehatan. Bahkan UP asuransi kakanda mayan gede, jadi sewaktu-waktu dia meninggal, saya sontak jadi janda kembang tajir, hohohoho… (TAPI YA AMIT-AMIT JABANG BAYI SIH YA BOK! *ketok-ketok meja)
  • Kami mulai membentuk dana pensiun berupa reksadana. Jumlahnya belum banyak, tapi ya wajar, lah wong baru dimulai bulan lalu.
  • Kami sudah punya dana darurat berupa tabungan tunai. Sampe hari ini, 2 teman sempat kami bantu lancarkan resepsi nikahnya berkat dana ini.
  • Kami punya 2 buah kartu kredit yang tiap bulan status pembayarannya selalu LANCAR.
  • Pas nikah, saya belum kerja, kakanda baru mulai ngantor dengan gaji 80 persen. Kami gedabrukan ngutang ke beberapa temen demi membiayai pengurusan surat-surat yang mayan ribet gegara lokasinya Bandung-Surabaya-Tangerang, resepsi, dan belanja khas pasutri anyar cem kasur, lemari gede, bla bla bla… (Makanya, kalau mau nikah, percayalah, nggak usah resepsi muluk-muluk. Kasur yang enak dan muat berduaan itu mahal cuy!) Untungnya, sejak 6 bulan terakhir, utang kami nggak nambah. Dan, mulai bulan depan, kami bisa fokus ke pelunasannya.
  • Kami bisa mudik sekali setahun.
  • Kami nggak pernah mengalami sindrom “tanggal tua” sejak 4 bulan terakhir. Kalau temen kantor ngeluh, “Duh, gajian masih seminggu lagi ya,” saya sih cengengesan doang. Semua kewajiban sudah dibayarkan, sisanya sudah diamplopin. Amaaan…
  • Kami nggak pernah kekurangan baju dkk. Pas butuh ransel, sepatu jebol, atau celana kakanda mulai selusuh keset, bulan berikutnya bisa beli yang baru.
  • Kami bisa nonton bioskop sekali seminggu, plus mamam enyak (di Shinmen atau Bebek H. Slamet) 2-3 kali sebulan.
  • Tiap bulan kami sebetulnya bisa beli game. Cuma, mengingat koleksi game sudah terlalu banyak, kami tahan napsu di sektor ini. Mending buat ngerawat kucing-kucing kesayangan.
  • Tiap bulan kakanda bisa beli tetek bengek yang dibutuhkan untuk hobinya (ngoprek hardware dan bikin robot), sementara saya bisa syoping Moleskine beserta seabrek Post-It dan refill Uni Jetstream.

Miku Bobo

Bagi saya, ini kehidupan yang mayan nyaman. Memang masih ada target keuangan yang harus dikejar, tapi perkembangannya positif. Bagi kakanda, tugas saya mengelola keuangan bikin dia bisa bekerja dengan tenang. Bahkan, secara berkala saya evaluasi sistem ini. “Gimana? Kamu nyaman nggak? Kalau enggak, bilang aja, kita cari solusi lain,” eh malah dijawab, “Nyaman kok. Enak banget kerjanya kalau tau besok pasti bisa mamam.”

Jadi, masih yakin jajan dijatah istri itu berasa mendekam dalam penjara? Yowes, kalau gitu, kan tinggal upayakan aja penghasilan sebesar 10X lipat pengeluaran. Dan tiap tahun pastikan jumlahnya naik ya untuk mengikuti inflasi. Gampang kan? *hmpffttt*

Published by

heyDian

Designing games, playing life~

3 thoughts on “Jajan Suami Dijatah Istri, Siksa atau Bahagia?”

  1. Dulu waktu awal nikah, Mas Apip aku sanguin tiap hari kayak anak sekolahan. Lama-lama aku yang males sendiri, jadi sekarang dijatahin per bulan aja. Huehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *