Berkat Sistem Amplop dan YNAB, Utang Kartu Kredit Lunas!

Saya punya 2 buah kartu kredit. Keduanya pernah menjerat saya dengan utang belasan juta rupiah. Bulan kemarin, akhirnya, semua utang kartu kredit itu lunas!

Awalnya, saya gunakan kartu kredit untuk ongkos nikah. Walau resepsinya sangat sederhana, pengeluaran terbesar saat itu justru untuk perjalanan bolak-balik Tangerang-Bandung-Surabaya, di mana saya dan suami mengurus surat-surat legal, yang diwajibkan untuk menunaikan pernikahan. Mengingat saat itu suami belum ngantor, sementara karier freelance-nya masih cupu, dan tabungan masih nol, jadilah kami pakai kartu kredit. Ditambah pinjaman kartu kredit kakak ipar, total utang kami mencapai belasan juta rupiah!

Kelar menikah, barulah suami ngantor. Dengan gaji sangat kecil. Karier freelance pun belum huwow hasilnya. Saya bahkan sempat menggadaikan mas kawin, sekadar untuk mengisi kosan dengan beragam kebutuhan standar pasutri anyar, termasuk lemari, kasur, dan rice cooker.

Selama tahun pertama menikah, prioritas kami adalah melunasi utang kartu kredit kakak ipar. Gawat kan kalau kami mendadak meninggal sebelum utang itu lunas. Jadi beban dong buat kakak ipar. Alhasil, tiap kali ada lebihan uang, kami tambahkan ke pembayaran utang kartu kredit kakak ipar itu.

Gimana dengan utang kartu kredit saya? Cukup tagihan minimalnya saja yang kami bayarkan. Yang penting, status kredit terjaga tetap lancar.

Begitu proyek freelance mulai banyak yang terselesaikan, suami lebih mudah mendapatkan klien. Dia langsung memutuskan resign dari kantor. Pendapatan freelance, asalkan kita paham triknya, memang bisa jauh lebih besar daripada kerja kantoran. Sayangnya, nggak lama setelah itu, kami berdua didiagnosis sakit; saya terkena bipolar disorder, suami mengidap diabetes. Kedua penyakit ini mengharuskan kami mengunjungi dokter spesialis dan beli obat rutin tiap bulan. Nggak boleh putus sama sekali. Karena keduanya nggak dikover oleh asuransi kami, dari mana uangnya? Kartu kredit.

Selain itu, tiap bulan adaaa saja pengeluaran ekstra yang nggak terbayangkan saat saya merencanakan anggaran. Dari mana uangnya? Kartu kredit.

Saking jengkelnya, di satu titik saya putuskan, sebelum 2017 berakhir, semua utang kartu kredit harus lunas!

Saya berusaha mengatasi masalah ini dengan menerapkan trik yang diajarkan di Toyota’s Way, buku yang pernah diwajibkan dibaca oleh kru Agate saat saya bekerja di studio itu. Dengan menanyakan why/kenapa hingga 5 kali (boleh lebih atau kurang sedikit), kita bisa menemukan akar masalah yang sebenarnya. Setelah itu, barulah kita bisa menemukan solusi yang tepat.

kenapa utang kartu kredit susah lunas?
Dari Pixabay (CC0)

Untuk utang kartu kredit saya, situasinya: Walau terus berstatus lancar, kami belum bisa betul-betul melunasi utang. Tiap bulan kami hanya bisa membayar sedikit di atas tagihan minimal.

Nah, kenapa kami hanya bisa bayar tagihan minimal?
Karena adaaa saja pengeluaran ekstra, yang nggak terbayangkan saat saya merencanakan anggaran.

Kenapa ada pengeluaran ekstra?
Karena, ternyata, di luar belanja rutin bulanan, kami juga perlu beli laptop, kacamata, HP, atau mudik. Untuk pembelian obat pun, kami sering pakai kartu kredit. Lebih parah lagi, kami gemar nonton di bioskop dan makan di restoran mahal tiap akhir pekan.

Kenapa pengeluaran ekstra itu nggak terbayangkan saat perencanaan anggaran?
Karena nggak pernah saya catat dan siapkan sebelumnya. Tiap bulan saya merencanakan hanya belanja rutin bulanan, yang angkanya relatif konstan.

Kenapa harus beli obat pakai kartu kredit?
Karena asuransi kami mengkover rawat inap, bukan rawat jalan. Dan kami belum punya BPJS.

Kenapa kami boros sekali saat bersenang-senang di akhir pekan?
Karena kami suka nonton film di bioskop, yang harga tiketnya lebih mahal di akhir pekan. Dan karena kosan kami dekat dengan PVJ, di mana ada banyak makanan enak, yang bisa kami nikmati kelar nonton.

Ternyata, dengan menanyakan why/kenapa berulang kali, ketemu akar masalah, yaitu:

  1. Saya nggak merencanakan pengeluaran ekstra
  2. Nonton bioskop di akhir pekan terlalu mahal
  3. Kami terlalu sering makan di restoran mahal
  4. Kami nggak punya BPJS maupun alokasi anggaran untuk berobat

Berbekal sistem amplop, saya kemudian merencanakan pengeluaran ekstra. Saya siapkan beberapa amplop tambahan, termasuk dana darurat, beli laptop, beli HP, dan kesehatan. Tiap bulan saya anggarkan sedikit uang ke dalam amplop-amplop ini. Di saat bersamaan, kartu kredit saya “bekukan”. Artinya, saya nggak pernah memakainya kecuali untuk berlangganan layanan daring dan belanja buku di Amazon. Tapi, saya pastikan bahwa di amplop alat kerja dan amplop buku memang ada uangnya. Saat transaksi dengan kartu kredit tercatat, uang itu saya “pindahkan” dari amplop terkait (alat kerja, buku, dll) ke amplop pelunasan kartu kredit. Dengan aplikasi YNAB, ini bisa dilakukan tanpa saya perlu meletakkan uang tunai betulan ke dalam amplop-amplop betulan. Begitu tagihan kartu kredit datang, saya bayarkan tagihan minimal ditambah belanja ekstra tersebut.

Untuk memperjelas maksud saya, begini skenarionya:

Saat merencanakan anggaran, saya anggarkan di amplop (disebut sebagai “category” dalam aplikasi YNAB):

  • Darurat: Rp 500.000
  • Pelunasan kartu kredit: Rp 500.000 — di akhir bulan, karena nggak ada belanja apa pun dengan kartu kredit, inilah yang saya bayarkan
  • Buku: Rp 100.000
  • Kesehatan: Rp 1.500.000 — di akhir bulan tersisa Rp 300.000 sehingga saya tahu bahwa biaya berobat untuk saya dan suami adalah Rp 1.200.000 per bulan
  • Beli laptop: Rp 500.000 — lebihan Rp 300.000 dari amplop kesehatan bisa saya pindahkan ke amplop ini, dan totalnya jadi Rp 800.000
  • Beli HP: Rp 500.000

Saat merencanakan anggaran bulan kedua, saya anggarkan lagi:

  • Darurat: Rp 500.000 — totalnya sekarang Rp 1.000.000
  • Pelunasan kartu kredit: Rp 500.000
  • Buku: Rp 100.000 — totalnya sekarang Rp 200.000
  • Kesehatan: Rp 1.200.000
  • Beli laptop: Rp 500.000 — totalnya sekarang Rp 1.300.000
  • Beli HP: Rp 500.000 — totalnya sekarang Rp 1.000.000

Di tengah bulan kedua, katakanlah, saya ingin belanja buku di Amazon. Harganya Rp 150.000. Begitu transaksinya tercatat, uang otomatis pindah dari amplop buku ke amplop pelunasan kartu kredit. Di amplop buku tersisa Rp 50.000, sementara di amplop pelunasan kartu kredit ada uang yang siap dibayarkan sebesar Rp 150.000. Uang ini nggak boleh saya utak-atik untuk alasan apa pun. Kalaupun terjadi situasi darurat, kan sudah ada amplop darurat. Dan, ingat, ada juga Rp 500.000 yang memang saya alokasikan sebagai pelunasan rutin kartu kredit. Begitu tagihan tiba, yang saya bayarkan adalah Rp 650.000.

tekan pengeluaran untuk melunasi utang kartu kredit
Karya Nick Youngson (CC BY-SA 3.0)

Selain itu, saya menekan beberapa pos pengeluaran. Misalnya:

  • Nonton di bioskop pas Senin-Kamis. Saya pastikan juga kami bawa air botolan dari rumah karena HARGA AIR MINERAL SEBOTOL 15 REBU ITU APA-APAAN?!
  • Nonton dan makan enak nggak boleh barengan. Kalau pekan ini kami nonton, berarti makan enak diundur hingga pekan depan. Vice versa.
  • Sabun cair diganti sabun batangan. Murah dan nggak bikin korengan kok.
  • Mandi di salon untuk kucing tersayang berkurang frekuensinya, dari 2 kali sebulan jadi 1 kali sebulan. Toh dia sudah bisa mandi sendiri.
  • Paket data saya turunkan, dari Rp 700.000 sampai hanya Rp 150.000. WiFi gratisan FTW!
  • Belanja baju, buku, dan game cuma pas ada diskon. Itu pun ketika kami memang membutuhkannya, bukan sekadar menginginkannya.

Di sisi lain, suami menambah pendapatan dengan menaikkan rate per hour-nya. Lumayan. Andai nambah cuma Rp 100.000 pun, saya sambut dengan sukacita.

Hasilnya, dalam 2 tahun kami berhasil melunasi 100% utang kartu kredit. Juga punya tabungan darurat yang terus bertambah angkanya tiap bulan. Bahkan, tahun ini, kami bisa beli 2 buah HP dan 1 buah laptop. Semuanya dengan uang tunai.

utang kartu kredit akhirnya lunas, yay!
Dari Good Free Photos (CC0)

Kalau Anda terjerat utang kartu kredit, coba saja lakukan cara-cara di atas. Siapa tahu membantu. Kalau ada pertanyaan lebih lanjut mengenai sistem amplop dan YNAB, silakan gunakan kotak komentar.

Angka-angka di artikel ini hanya ilustrasi, bukan mencerminkan keuangan kami yang sebenarnya.

Published by

heyDian

Designing games, playing life~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *