Menabung dengan Tujuan Lebih Menyenangkan

Dulu, saya belajar satu ilmu penting dari Safir Senduk soal tujuan keuangan: “Menabunglah sebelum belanja.” Kebiasaan ini mengatasi impulsivitas saya. Asalkan sudah menabung, sisanya boleh saya pakai untuk foya-foya. Tanpa rasa bersalah.

Masalahnya, menabung tanpa tujuan itu kurang efektif. Saya cuma memasukkan uang ke tabungan biasa, yang lama-lama pasti tergerus inflasi. Bok, biaya admin saja lebih besar dari bunganya!

Walau kebiasaan itu masih lebih baik daripada nggak menabung sama sekali, saat ini saya merasa sudah saatnya saya naik level. Apalagi setelah seluruh utang kartu kredit lunas, sementara pengeluaran tetap sama, artinya, ada lebihan uang yang–jujur saja–saya bingung mau diapain. Hahahahaha…

Gimana Cara Menabung dengan Tujuan Jelas?

Berbekal ilmu yang dibagikan berbagaiĀ financial planner, termasuk Ligwina Hananto dan Rudiyanto, saya jadi tahu, langkah pertama perencanaan keuangan adalah menentukan tujuannya. Misalnya, dana darurat, dana pensiun, dana liburan, dana persalinan, dan lain-lain.

Saat menentukan tujuan keuangan, bukan cuma untuk apa, tapi perlu juga ditentukan berapa nominalnya dan kapan tercapainya. Alih-alih sekadar mematok, “Pokoknya punya dana darurat,” sebaiknya lebih lengkap, “Pokoknya punya dana darurat Rp 60 juta dalam 5 tahun.” Dari situ, barulah bisa dihitung berapa yang perlu ditabung tiap bulan maupun instrumen keuangan apa yang cocok untuk mencapai tujuan itu.

Bicara tentang instrumen keuangan, saya tentu bukan pakarnya. Cuma, saya tahu formulanya hanya satu:

Makin besar risiko, makin besar potensi return, vice versa.

Pertimbangan saat Memilih Instrumen Keuangan

Ketika membuat perencanaan tabungan untuk tahun 2018, saya bukan cuma mempertimbangkan nominal, melainkan juga dana itu perlu likuid atau tidak, perlu aman atau tidak, dan lain-lain.

Misalnya, untuk dana darurat, saya menargetkan 3 bulan pengeluaran dalam bentuk uang tunai (disimpan dalam tabungan biasa), ditambah 9 bulan pengeluaran dalam bentuk emas, ditambah 12 bulan pengeluaran dalam bentuk saham blue chip.

Pertimbangannya, saya butuh sebagian dana itu likuid, mudah diakses sewaktu-waktu saya butuh. Namanya juga dana darurat, ya kan? Tapi, saya nggak mau dana itu tergerus inflasi, karenanya emas membantu. Tapi, saya juga nggak sanggup nabung puluhan juta sebulan, karenanya saham blue chip–dengan return menggiurkan, namun masih relatif aman–mestinya mempercepat pencapaian tujuan ini.

Contoh lain, dana gadget. Saya dan suami perlu beli laptop dan HP baru tiap 3-4 tahun. Mengingat ini alat kerja yang wajib dibeli dalam waktu cukup singkat, saya pilih reksadana campuran. Lebih aman.

Sementara untuk dana liburan, yang semoga juga tercapai dalam 3-4 tahun, saya putuskan untuk lebih nekat dan menempatkannya di reksadana saham. Pertimbangannya, kalau untung gede, saya bisa liburan ke Jepang. Kalau untung kecil atau bahkan rugi, yowes, ke Bali juga mayan seru kan.

Kalau ke Jepang mah, beberapa jam doang duit saya habis di Itoya, lalu pulang. Hiks.

Kadang, Menentukan Deadline Tujuan Keuangan Nggak Gampang

Untuk properti, sayangnya, saya masih galau. Berhubung sama sekali nggak pengen punya anak, sampai saat ini saya belum bisa memutuskan antara beli rumah di Bandung, yang selangit harganya, ataukah ngekos saja sepanjang usia produktif, lalu pindah ke kota kecil saat pensiun. Karena itu, saya berencana menabung rutin sejumlah konstan tiap bulannya dalam bentuk saham. Nantinya, pas tabungan sudah memadai untuk beli tanah atau DP rumah, atau mungkin malah pindah ke negara lain, saya tinggal cairkan saham itu.

Simpel kan?

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda memiliki perencanaan yang matang untuk semua tujuan keuangan Anda?

Oh ya, kalau Anda bisa merekomendasikan financial planner independen (yang tidak berafiliasi dengan bank dan perusahaan asuransi apa pun), mohon infonya ya. Saya sedang nyari-nyari nih, ilang entah di mana. šŸ˜€

Sumber gambar: Easter Eggs @ Max PixelĀ (license CC0)

Published by

heyDian

Designing games, playing life~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *