Kenapa Repetisi Menyenangkan?

Saya pernah kecanduan Farmville 2: Country Escape. Sampai kemudian diprotes suami, “Main game jangan yang repetitif gitu dong.” Baiklah. “Sana main Stardew Valley aja!” BAIKLAH. *langsung beli Nintendo Switch

Belum tahu saja dia… Stardew Valley kan juga repetitif. Bwek!

Nggak pakai lama, saya langsung kecanduan Stardew Valley. Sampai artikel ini ditulis, sudah 205+ jam saya memainkannya. Dan belum ada tanda-tanda bosan sama sekali.

Dulu, saya juga pernah kecanduan Harvest Moon, game yang konon menjadi inspirasi Stardew Valley. Begitu pula Don’t Starve. Oh, bukan kecanduan lagi. Gila! Game yang harusnya survival itu saya mainkan layaknya Harvest Moon. Mengabaikan cerita dan ending, saya bangun markas sampai jadi pertanian masif. Saya punya ratusan peti berisi ribuan rumput, ranting, dan kayu. Game ini mengandung permadeath, tapi berkat penempatan strategis meat effigy, 1 peti berisi first aid kit (obor, tongkat, dll), dan ratusan jebakan gigi berderet rapi, saya bebas mati kapan pun karena bakal bangkit kembali dengan enteng dan cepat. Berapa lama saya main? Dua pertanian mencapai lebih dari 1.000 hari, dan 1 lagi mencapai 2.000 hari.

Saya nggak pakai mod, jadi penataan semak secara manual bisa sampai serapi itu…

Harvest Moon, Stardew Valley, dan Don’t Starve adalah games populer. Dan, terlepas dari pandangan suami bahwa memainkan Farmville sama saja dengan nonton sinetron, nyatanya, itu populer. Keempatnya bisa dimainkan dengan play style serupa: repetisi.

Kenapa repetisi begitu menyenangkan?

Entah. *PLAKKK
Tapi, marilah kita amati persamaan di antara keempatnya.

Crafting

Satu core mechanic di keempat games itu justru crafting. Salah satu yang nggak pernah lenyap dari Harvest Moon adalah mekanik memasak. Kita bisa mencampur bahan ini itu anu inu, lalu berharap jadi makanan alih-alih sampah. Oh, betapa senangnya ketika hasilnya tepat! Walau mekanik memasak ini dihilangkan di Stardew Valley, diganti dengan unlock resep, dan kita bisa memasak dengan selalu tepat asalkan semua bahan tersedia, Stardew Valley juga game yang dipenuhi mekanik crafting. Persis seperti Don’t Starve. Persis seperti Farmville.

Eksplorasi

Satu lagi core mechanic di keempat games itu yang nggak kalah menyenangkan adalah eksplorasi. Harvest Moon, Stardew Valley, dan Don’t Starve melakukannya dengan lebih elegan dibanding Farmville karena kita bisa menemukan lahan baru tanpa batasan waktu. Tapi, namanya free to play, wajar sih Farmville memanfaatkannya untuk mendapatkan uang dari gamers. Mau lebih cepat buka lahan baru? Ya bayar. Andai game ini dijual premium seperti ketiga games lainnya, saya yakin eksplorasi bisa dilakukan dengan lebih bebas.

Eksplorasi ini tidak melulu persoalan lahan. Bisa juga berupa cerita, karakter, bahan, dan resep crafting baru.

Sesimpel bibit baru yang dimunculkan bertahap seiring waktu bisa menambah eksplorasi.

Semuanya dibuka pelan-pelan, sedikit demi sedikit. Pernah nonton bokep bagus, di mana bintang cewenya buka baju satu per satu, lalu mendapatkan oral foreplay di berbagai titik tubuh, pelan-pelan menuju titik terpenting? Persis kaya gitu rasanya!

Play Session Singkat

Farmville paling efektif melakukan ini, caranya dengan meniadakan penalti. Kalau Anda masih ingat Farmville pertama era Facebook, game itu memperkenalkan penalti absensi. Terlambat panen, tanaman busuk, usaha kita sia-sia. Tapi, itu semua lenyap di Farmville 2: Country Escape. Nggak ada penalti kalau kita lama nggak main. Begitu balik, tanaman tetap sehat dan siap panen. Hanya saja, hadiah lebih besar tersedia bagiĀ gamers yang lebih rajin.

Semula, saya kira itu hanya karena Farmville adalah free to play. Ternyata, nggak juga. Lebih penting menjaga play session sesingkat mungkin. Harvest Moon, Stardew Valley, dan Don’t Starve menggunakan sistem hari, di mana 1 hari hanya berlangsung sekian menit real-world. Kita bisa memainkannya selama beberapa hari, istirahat, main satu hari, istirahat lagi. Progress pun terasa harian. Tiap hari berganti, “Wow, survive sehari lagi! Eksplor apa ya hari ini?”

Sepertinya, inilah yang menjadikan repetisi nggak terlalu menyiksa.

Replayability Tinggi

Banyak–sekali lagi, BANYAK–banget yang bisa dilakukan di Harvest Moon, Stardew Valley, Don’t Starve, maupun Farmville. Stardew Valley yang paling gila. Hampir semua yang kita bisa lakukan di Harvest Moon, bisa kita lakukan di game ini. Itu pun masih ditambah dengan memancing (mirip memancing di Torchlight II) dan battle sederhana. Kita juga bisa menikahi maupun menceraikan 12 karakter berbeda, masing-masing dengan cerita latar unik. Saya bercita-cita melakukannya, btw.

Don’t Starve malah memberikan procedurally generated map. Artinya, saya bisa membuka new game 10 kali dan akan menjumpai 10 pengalaman berbeda. Di salah satu peta yang saya buka, ada 20+ sarang Tallbird. Tentu saja saya langsung membangun markas di dekatnya, dengan perangkap gigi di tengah-tengah. Tinggal pancing mereka menuju perangkap, saya bisa mendapatkan 20+ daging dan telur Tallbird dengan sangat mudah. Automated life is simply awesome!

Tiap kali makhluk jahat menyerang, saya lari ke sini, lalu ongkang-ongkang kaki di tengah sementara mereka ter-suck kitty oleh jebakan gigi maut.

Farmville nggak punya procedurally generated map atau percabangan cerita, tapi Zynga mengakalinya dengan menggelar event rutin. Event ini berlangsung 2 mingguan, dengan mekanik crafting dan misi yang sama, tapi hadiahnya dibikin menggiurkan. Misalnya, anjing dan kucing yang hanya bisa dibeli dengan uang beneran, ditawarkan sebagai hadiah utama.

Jadi, Kenapa Repetisi Menyenangkan?

Entah. *PLAKKK

Coba kita tanyakan pada Wilson yang sedang garuk-garuk bokong.

Sepertinya semua mekanik di atas nggak menjawab pertanyaan itu. Atau cukup menjawab? Gimana menurut Anda?

Games yang disebut dalam artikel ini:
*
Stardew Valley versi Nintendo Switch
*
Don’t Starve versi PC (Steam)
*
Harvest Moon: Back to Nature versi PlayStation
*
Farmville 2: Country Escape versi Android
*
Torchlight II versi PC (Steam)

Published by

heyDian

Designing games, playing life~

One thought on “Kenapa Repetisi Menyenangkan?”

  1. Kenapa repetisi menyenangkan?

    Karena dengan adanya unsur repetisi dalam game, dulu gw jadi punya bahan lebih untuk dibahas dan dijadiin artikel. Target bulanan terpenuhi deh.

    *dikeplak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *