Kencan Akhir Pekan: Main-Main dengan Air-Dried Clay

Akhir pekan kemarin saya dan suami main-main dengan air-dried clay.

Bahan:

  • Air-dried clay, bisa dibeli di toko bahan craft
  • Satu set alat pahat (sculpture), bisa dibeli di toko bahan craft
  • Cat akrilik, di Gramedia juga ada ini mah
  • Alas yang bepermukaan licin, misalnya kaca, akrilik, atau–yang saya gunakan–kertas foto
  • Sedikit air

Saya dan suami sengaja pilih air-dried clay, bukan jenis clay lainnya, karena kami nggak punya oven. Air-dried clay bisa dikeringkan hanya dengan diangin-anginkan.

Cara main:
Tentukan dulu mau bikin apa. Kalau baru mulai, sebaiknya bentuk yang simpel. Saya semula pengen bikin penis raksasa. Kata suami, itu terlalu rumit. Jadilah saya bikin daun. Alangkah baiknya jika ada gambar atau foto referensi juga. Saya nggak nyari referensi. Alhasil, ketika tiba saatnya menambahkan detail, saya ngaco-ngaco saja bikinnya, dan cukup menyesal karenanya.

Ambil clay secukupnya. Uleni dengan kedua tangan. Ini bertujuan memanasi dan meratakan tekstur clay.

Buat bentuk dasar. Karena saya bikin daun, bentuknya elips. Nggak sempurna nggak masalah. Bisa diakali.

Lalu, potong bentuk dasar menjadi bentuk yang diinginkan.

Sampai tahap ini, permukaan clay masih kasar. Bisa dihaluskan dengan alat pahat.

Mulai tambahkan detail. Saya nggak tahu sih alat pahat yang mana dimaksudkan untuk teknik apa, jadi saya coba saja satu per satu. Sampai akhirnya menemukan alat yang paling enak: jempol. *lah

Sebetulnya hampir apa pun yang ada di sekitar kita bisa dipakai untuk membentuk maupun menambahkan detail. Kalau mau memotong lurus, pakai saja penggaris besi tipis. Kalau butuh lubang-lubang mungil, tusuk gigi mestinya membantu. Asalkan bukan Tupperware limited edition milik nyokap, aman lah ya.

Kalau belum puas dengan yang dibikin, nggak papa. Setelah dipulas dengan air (pakai kuas, bukan dituang seisi gelas), bakal bisa dibentuk ulang. Kalau sudah puas, keringkan di udara terbuka selama 24 jam. Saya sempat terpikir untuk mengeringkannya dengan hairdryer, tapi, kata suami, bakal tetap lama. Daripada capek, mending biarkan dan tinggalkan saja.

Setelah kering, barulah kreasi dicat.

Yang Saya Pelajari

  • Saat menambahkan detail, bukan hanya jenis alat yang berpengaruh, tapi juga cara kita memegangnya, tekanan saat alat menyentuh clay, serta tingkat kekeringan clay. Saya sempat frustrasi nggak bisa bikin urat daun yang halus karena tekanan tangan saya terlalu kuat. Goresan terlalu dalam, padahal bukan itu yang saya inginkan. Ndilalah, menjelang akhir, saat clay mulai mengering, malah lebih gampang menggoresnya. Zzz.
  • Clay memang bisa dipulas dengan air untuk memperbaiki bentuk. Tapi, kalau kebanyakan, malah susah dibentuk dan bikin makin lama keringnya.
  • Clay yang masih basah bisa menempel di berbagai permukaan, termasuk tangan. Bisa dicuci dengan air sabun sih. Cuma, kalau mainnya di atas sprei baru gres berwarna putih, atau sambil ngemil gorengan,┬áitu sih sengaja nyari perkara.
  • Memahat clay ternyata butuh ketelatenan luar biasa. Mayan menantang otak ADHD saya, yang dikit-dikit pengen ganti bentuk kreasi. Atau, mungkin saya cuma kecewa batal memahat penis raksasa.

Published by

heyDian

Designing games, playing life~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *