Pentingnya Copycat dalam Belajar

Tugas terbaru saya adalah mendesain gameplay untuk sebuah endless runner. Ya, Anda nggak salah baca. Bakal ada satu lagi endless runner memenuhi muka bumi ini. Siapa bilang cuma manusia yang bisa beranak-pinak dengan cepat, hah?!

Karena sadar betul endless runner pertama yang saya desain sangatlah berantakan, kali ini saya bertekad mengerjakannya dengan lebih baik. Pertama, dengan mempertanyakan, “Apa sih yang bikin endless runner menyenangkan?”

Menemukan jawabannya nggak gampang. Game ini nggak punya tujuan akhir. Pemain pasti mati, lalu mengulang permainan berkali-kali. Harapannya sih gitu ya. Kalau didesain dengan bagus, game ini menimbulkan adiksi luar biasa. Kalau didesain dengan buruk, pemain pasti cepat bosan. Jadi, gimana agar endless runner bisa memicu perasaan, “Main sekali lagi deh,” terus-menerus dalam waktu relatif lama?

Saya mulai brainstorming. Dapet beberapa ide awal. Misalnya, progresi ability, baik pemain maupun kostum/alat yang dipakainya. Lalu, background yang berubah-ubah, misalnya dari kebun ke pantai ke goa ke langit. Lalu, kehadiran musuh dan senjata yang tidak brekkk muncul semuanya di awal, tapi bergantian sesuai progresi ability. Lalu, BGM (background music) yang juga berubah, dari simpel jadi makin kompleks.

Kalau Anda sering main endless runner, pasti tahu dari mana saja ide itu berasal. Mulai dari Jetpack Joyride, Doodle Jump, hingga Mario Run.

Not good enough. Masa sekadar copycat desain yang sudah ada? Dari genre yang sama pula!

Saya mulai melirik genre lain. Salah satunya Pokémon Sun/Moon. Ada mekanik yang sangat saya sukai di situ. Gimana kalau diterapkan di endless runner?

Persisnya apa, nggak terlalu penting. Yang saya ingin ceritakan justru betapa manusia bisa sangat jahat pada dirinya sendiri. Alih-alih menguji mekanik itu dan membuktikan hipotesis saya berhasil atau gagal, saya malah mikir, “Tapi ini kan mekanik Pokémon. Lagi-lagi copycat. I can’t think of anything original. I’m so fucking useless and dumb!

Pemikiran ini sering sekali muncul saat saya mendesain, menulis, menggambar, dll. Bahwa saya nggak punya bakat. Bahwa saya nggak bisa mencetuskan ide orisinal. Semuanya copycat dari ide-ide yang sudah tercetus sebelumnya oleh orang lain. Kadang, membuat lumpuh juga. Analysis paralysis, istilah kerennya. Saya jadi berhenti mencoba karena takut copycat.

Seperti biasa, kalau sudah galau begini, saya curhat ke suami. Seperti biasa, dia kasih motivasi sekaligus solusi.

Di buku yang pernah dia baca, A Mind for Numbers (Barbara Oakley), disebutkan bahwa otak manusia hanya bisa memproses rata-rata 4 keping konsep dalam 1 waktu. Ada juga yang bisa 3 atau 5. Tapi, rata-rata 4 saja. Setelah kita memahami keempat keping konsep itu, sel otak bertambah, keempat keping konsep menyatu menjadi 1 keping konsep, sehingga otak bisa mulai memproses 3 keping konsep lainnya. Keempat proses menyatu lagi, muncul slot kosong untuk 3 keping baru lagi, dan seterusnya.

Contoh simpelnya, sebelum bisa memahami AI (Artificial Intelligence), kita perlu memahami kalkulus. Sebelum bisa memahami kalkulus, kita perlu memahami aritmatika. Tapi, sebelum bisa mengurangi dan menjumlahkan angka-angka, kita perlu memahami konsep dasar angka, misalnya bahwa angka 5 lebih besar dari angka 1, bahwa ada angka 0 sebagai–salah satunya–identifikasi notasi.

Tidak seperti aritmatika dan kalkulus, AI adalah konsep yang relatif baru. Para pionirnya boleh dibilang tidak melakukan copycat. Tapi, untuk mendalami AI, mereka perlu memahami terlebih dulu konsep aritmatika dan kalkulus. Yang mereka pelajari dengan cara apaaa? Copycat. Dari buku. Dari guru dan dosen. Dari orang tua.

Bahkan, sebetulnya, semua mamalia belajar dengan copycat. Dengan meniru orang tuanya. Kita pun melakukannya. Dari orang tua, kita tahu gumpalan putih di langit itu bernama awan, dan jika gumpalan itu sedang pilek, berarti hujan. Dari guru, kita tahu lempeng cokelat bertekstur keras dan berserabut itu bernama kayu, yang bisa memunculkan lidah panas menari-nari bernama api. Setelah memahami semua itu, barulah otak Sapardi Djoko Damono sanggup merangkainya jadi karya yang bikin hati saya meleleh,

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Segala kemampuan yang kita lakukan subconsciously hari ini, mulai dari berjalan, berbicara, hingga menggerakkan tubuh untuk mempertegas maksud kita (misal, mengangguk untuk mengiyakan, atau berkacak pinggang menyatakan marah), sebetulnya adalah hasil belajar dengan meniru. Alias copycat.

“Kalau balita nggak malu belajar merangkak, jalan, lalu lari dengan niru papa mamanya, kenapa kamu harus malu belajar game design dengan niru mekanik games yang sudah ada?” tanya suami. JLEBBB.

Jadi, kalau Anda sedang memelajari bidang kreatif, apa pun itu, dan merasa sangat bodoh karena belum bisa mencetuskan ide-ide orisinal dan masih nyontek sana-sini, sinilah tos dulu sama saya.

Kalau Anda sudah jago, jangan lupa, mungkin awalnya Anda juga pernah melakukan copycat, sekecil apa pun itu. Hayo ngaku!

Kalau Anda pengen ngomel lihat kloningan Flappy Bird dan Clash of Clans bertebaran di Play Store, keep calm and just play whatever you want. Nyantai saja lah selama mereka nggak ngaku-ngaku karya orang lain sebagai miliknya. Mungkin mereka sedang dalam proses memahami kepingan konsep game design paling mendasar. Dan, siapa tahu, mungkin salah satunya kelak bisa jadi game designer sehebat Shigeru Miyamoto?

Kredit gambar:
* Flappy bird (Gamasutra)
* Copycat Fight Club quote (EL JOKER) lisensi CC BY-NC-ND 2.0

Published by

heyDian

Designing games, playing life~

4 thoughts on “Pentingnya Copycat dalam Belajar”

  1. Dulu pertama kali menyadari konsep “copycat” ini waktu baca buku Steal Like an Artist (link: https://www.amazon.com/Steal-Like-Artist-Things-Creative-ebook/dp/B0074QGGK6). Ya manusia belajar banyak hal dari meniru apa yang mereka lihat. Dengan memanfaatkan kreatifitas dan menambahkan ke hal yang sudah dipelajari dari hasil observasi, jadilah suatu hal yang baru. Yang nantinya masih bisa disilangkan dengan ide lain, dan akan begitu seterusnya.

    Bahkan metode belajar ini pun juga sangat berguna bahwa pertanyaan “Di sana lagi ujan ga?” itu adalah cara lain pacar untuk bilang lagi kangen.

  2. Well, as they say:

    “Imitation is a dorm of flatery, and emulation is the highest form.” 😉

    *I’m sharing this article with my kids sis. No matter what you say! 😁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *