Grup Whatsapp untuk Mendampingi Bullet Journal

Untuk menjaga produktivitas, saya pakai Bullet Journal. Sistem manajemen waktu dan proyek rancangan Ryder Carroll ini paling enak diterapkan di buku catatan, yang tentu saja saya bawa ke mana-mana. Tapi, ada kalanya saya terlalu malas atau sulit mengeluarkan buku dari dalam tas. Solusinya, aplikasi HP.

Pilihan saya jatuh pada Whatsapp. Satu grup di mana adminnya adalah saya, anggotanya adalah saya, dan kontennya dari saya untuk saya.

Eh, gimana?

Menabung dengan Tujuan Lebih Menyenangkan

Dulu, saya belajar satu ilmu penting dari Safir Senduk soal tujuan keuangan: “Menabunglah sebelum belanja.” Kebiasaan ini mengatasi impulsivitas saya. Asalkan sudah menabung, sisanya boleh saya pakai untuk foya-foya. Tanpa rasa bersalah.

Masalahnya, menabung tanpa tujuan itu kurang efektif. Saya cuma memasukkan uang ke tabungan biasa, yang lama-lama pasti tergerus inflasi. Bok, biaya admin saja lebih besar dari bunganya!

Gimana dong?

Pertanyaan Terbaik saat Belajar Game Design (atau Apa Pun)

Pertanyaan yang diajukan kebanyakan pemula di komunitas Game Developer Indonesia (GDI) bisa dikelompokkan menjadi 2 macam. Yang paling cerdas, “Pengen bikin game, kemampuan apa yang saya perlu miliki?” Sementara yang paling oneng, “Gimana caranya bikin game?” bisa bikin para senior di GDI mendadak migren.

Gimana dong?

Trik Menumbuhkan Minat dan Kebiasaan Baca Buku

Beberapa hari silam, web/app developer sekaligus blogger idola Arie Mochamad Prasetyo menggelar survei di Twitter dan Facebook, menanyakan berapa banyak buku yang tuntas dibaca sepanjang tahun 2016. Hasilnya… Apa, hayo?

Amplop, Sistem Kelola Uang untuk Para Pemalas

Sejak lulus SMA dan bisa cari uang sendiri, terutama sepanjang masa freelancing, pengelolaan uang saya sederhana. Sesederhana hari ini invoice cair, besoknya nawar MacBook. Sesederhana siang dapet bonus, sorenya berangkat ke BEC untuk beli Nintendo 3DS. Nyatet arus kas tiap hari? Yaelah, gimana bayar kosan tiap bulan aja wallahualam.

Ebuset! Gimana dong?