Setelah 14 Hari Puasa Medsos…

Beberapa bulan belakangan, kecanduan saya akan media sosial (medsos) makin parah. Sebagai bagian dari Generasi M(enunduk) yang baik dan benar, saya habiskan seharian dan semalam suntuk memelototi ponsel. Alhasil, bangun kesiangan, nggak sarapan, boro-boro olahraga. Belum lagi didera perasaan bersalah akibat nggak menyelesaikan tugas-tugas penting. Lalu, pada 25 Mei 2016 saya putuskan, puasa medsos sajalah!

Apa yang saya pelajari?

Jajan Suami Dijatah Istri, Siksa atau Bahagia?

Jumat kemaren di Twitter rame tagar #SejakMenikah. Salah satu pekicau, kayanya seorang suami, ngaku merasa bagai berada dalam penjara gegara tiap hari dijatah duit jajan oleh istrinya. Kakanda pernah juga diketawain temennya, yang lajang, begitu si temen tau dia dapet jatah jajan harian. Lah? Kakanda tampaknya bahagia dengan sistem pengelolaan keuangan yang saya terapkan. Tapi, kenapa jatah jajan itu terkesan seakan menyiksa suami?

Padahal, gini lho…

Uni Jetstream 3, What Kind of Sorcery is This?!

Saya cukup gila soal pilihan merek pulpen dan notebook. Maklum, sejak kelas 6 SD saya sudah paham segala kelebihan dan kekurangan ballpoint, rollerball pen, dan gel pen. Sejak saat itu pula hati ini terjerat kecanggihan gel pen, dan tentu saja emoh balik ke era primitif bersama ballpoint.

Memang kenapa?

Paper Golf – Assignment Week 1 Game Design Specialization

Saya sedang ikut kuliah online di Coursera. Namanya Game Design: Art & Concept Specialization. Kuliah ini berlangsung sejak 15 September 2015 hingga akhir Januari 2016. Barusan saya kumpulkan PR (assignment) untuk minggu pertama: Paper Golf.

Mau tau?

Battle of Ndasmu!

Setelah sembuh dari wabah flu yang melanda kantor, lalu berkutat dengan tumpukan kerjaan, akhirnya semalem saya dan kakanda punya sedikit waktu luang untuk nonton film di Blitz. Ada 2 judul yang saya incer: Inside Out (karya Pixar) dan Battle of Surabaya (karya anak bangsa bapak emaknya). Tapi, seperti biasa, pilihan akhir jatuh pada film apa pun yang jadwalnya cocok dengan jam berapa saya nyampe PVJ. Berhubung ternyata Blitz cuma nayangin Inside Out, ya udah, Inside Out.

Lalu, negara api menyerang…

Beli Itu Kalah

Beberapa minggu lalu, saya sempat membaca tulisan Glenn Marsalim yang dimuat di Linimasa. Tentang gimana orang-orang jadi “lumpuh” karena terbiasa “membeli”. Saya sendiri pernah menyaksikan betapa kagetnya murid saya setelah dia nanya, “Lagi ngapain, Pak?” dan saya jawab, “Ngejahit baju.” Pernah juga, ketika saya dan teman-teman sekantor mengenakan topeng kardus di Pasar Seni ITB 2014, banyak pengunjung lain yang berkomentar, “Topengnya bagus. Beli di mana?” Tapi, begitu tahu topeng-topeng itu buatan kami sendiri, ketertarikan mereka langsungĀ menguap. Pedih ya.

Lanjut?

Bikin Masalah? Ahzeg!

Awal-awal nyoba Arduino, saya semacam terbang merem. Hukum Ohm? Lupa. Hukum sirkuit Kirchhoff? Apalagi! Solder-menyolder (walau awalnya nggak langsung kepake), baca nilai resistan pada resistor, bahkan apa dan bagaimana komponen pembentuk Arduino saja saya nggak paham.

Lalu, gimana dong?

Amplop, Sistem Kelola Uang untuk Para Pemalas

Sejak lulus SMA dan bisa cari uang sendiri, terutama sepanjang masa freelancing, pengelolaan uang saya sederhana. Sesederhana hari ini invoice cair, besoknya nawar MacBook. Sesederhana siang dapet bonus, sorenya berangkat ke BEC untuk beli Nintendo 3DS. Nyatet arus kas tiap hari? Yaelah, gimana bayar kosan tiap bulan aja wallahualam.

Ebuset! Gimana dong?

Persistence Of Vision dan Sedikit Sejarah

Beberapa hari terakhir di tahun 2014, saya mulai nyoba-nyoba Arduino. Sebenernya, sebelum jadi programmer, saya sempet tertarik dengan elektronik, tepatnya sekitar akhir SMP. Lantaran nggak pernah ada yang bisa ditanyain dan saya males nyari alatnya, akhirnya saya sekadar baca-baca dan ngintip buku kumpulan skematik.

Lalu?