Jajan Duluan, Belanja Belakangan

Saat merancang anggaran keuangan, saya mematok satu prinsip sederhana:

Jajan duluan, belanja belakangan.

Dalam praktiknya, setiap penghasilan saya sisihkan terlebih dulu untuk tabungan, lalu kewajiban, lalu jajan, lalu barulah belanja sehari-hari. Alasan saya simpel. Kalau nabung dan jajan duluan, berapa pun uang yang tersisa, selalu bisa dicukupkan untuk belanja sehari-hari.

Simulasinya begini:

Katakanlah penghasilan saya Rp 10.000.000. Saya sisihkan minimal 30 persen (atau Rp 3.000.000) untuk dana darurat—yang saya simpan di rekening bank—atau saya belikan reksadana pasar uang. Mengikuti prinsip bahwa tabungan sebaiknya ada tujuannya, reksadana pasar uang itu pun bertujuan keuangan 1 tahun atau kurang.

Setelah nabung, saya sisihkan uang untuk segala kewajiban bernominal tetap alias fixed price. Misalnya, bayar listrik sebesar Rp 300.000, pulsa sebesar Rp 200.000, internet sebesar Rp 400.000, iuran RT sebesar Rp 25.000, dan beli gas sebesar Rp 75.000. Totalnya Rp 1.000.000. Angka-angka ini cenderung nggak bisa ditawar, dan harus dipenuhi kalau nggak mau hidup susah. Karenanya, harus diprioritaskan.

Setelah itu, saya sisihkan—misalnya—10 persen (atau Rp 1.000.000) untuk jajan. Uang ini bebas saya belanjakan apa pun sesuka hati.

Lalu, uang yang tersisa, yaitu Rp 5.000.000, barulah saya belanjakan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti makan, transportasi, baju, skin care, dll. Nominal pos pengeluaran ini biasanya bervariasi. Bisa rendah banget. Bisa pula tinggi banget. Alhasil, selalu bisa fleksibel menyesuaikan dengan kebutuhan. Kalau bulan ini, misalnya, saya butuh baju, berarti nggak boleh pesan Gofood terlalu sering. Kalau saya sedang depresi sehingga sering kalap makan enak, berarti belanja skin care dipangkas jadi cleanser-toner-moisturizer saja. Atau, pas headset mendadak rusak, merek sabun mandi yang saya pakai turun sejenak dari The Body Shop ke Lifebuoy.

Pengalaman saya,

kalau saat merancang anggaran, belanja kebutuhan sehari-hari lebih diprioritaskan ketimbang jajan, yang ada saya nggak pernah jajan. Karena, belanja kebutuhan sehari-hari bisa hemat banget hingga boros banget. Sebaliknya, kalau jajan duluan, belanjanya mau nggak mau menyesuaikan dengan uang yang tersisa. Lebih enak begitu.

Foto kover oleh Muhammad Daudy (Unsplash), free license.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s