Perjalanan Menuju Diagnosis ADHD dan Bipolar Disorder

Sejak lulus SMA, saya mulai bekerja. Sejak itu pula, saya sadar ada yang salah dengan diri saya.

Saya gonta-ganti pacar layaknya gonta-ganti baju. Pas baru PDKT, semangat 45. Lalu asyik pacaran. Lalu bosan. Lalu mulai malas ketemu. Dan putus begitu saja. Ketemu orang lain, PDKT lagi. Semangat 45 lagi. Begitu seterusnya.

Kerjaan juga sama saja. Kadang, saya berapi-api, lalu mendadak memulai proyek ini-itu. Kadang, saking malasnya, boro-boro bekerja, bangun saja ogah.

Dalam 20 tahun pertama hidup saya, 2 kali saya pengen menyerah dan mencoba bunuh diri. Tapi, saya tetap nggak sadar bahwa saya butuh bantuan. Sampai 10 tahun lalu. Saya mengalami episode depresi yang mendalam dan sangat lama.

Kali itu saya coba ketemu psikiater di RS Advent. Beliau sudah tua. Sekarang sudah almarhumah. Di pertemuan pertama beliau bilang, “Kamu depresi.” Nggak ada diagnosis lain. Saya langsung dikasih obat.

Masalahnya, obat itu bikin saya tidur terus-menerus selama 2 minggu. Saya bangun hanya untuk makan dan mandi. Nggak bisa beraktivitas lainnya.

Saya kapok dan nggak mau ketemu psikiater itu lagi.

Masalah fokus

Dua tahun berikutnya, saya depresi lagi. Bahkan sampai harus undur diri dari kerjaan saya di Agate Studio.

Saya menganggur 3 tahun, lalu bekerja di Inmotion. Teman kantor merekomendasikan seorang psikolog.

Pada pertemuan pertama, belum ada diagnosis, tapi beliau sepakat bahwa saya depresi. Beliau ajarkan teknik pernapasan untuk relaksasi. Saya nggak balik ketemu beliau karena nggak nyaman; ada alasan tersendiri yang nggak bisa saya ungkapkan di sini.

IQ ketinggian?!

Saya kemudian ketemu psikolog kedua. Kali itu di Biro Pelayanan dan Inovasi Psikologi (BPIP) Unpad. Biayanya murah. Cuma Rp 600 ribu, saya dites lengkap sekaligus dinilai oleh psikolog, yang sepertinya adalah dosen S2 Psikologi Unpad. Tes itu berlangsung 3 hari penuh, sejak pagi hingga sore. Berbagai tes saya jalani, termasuk tes Rorschach.

Seusai tes, psikolog bilang, “IQ kamu ketinggian. Harus cari passion.”

Saya nggak puas dengan penilaian itu. Bahkan kesal. Cem mana IQ tinggi bikin hidup saya berantakan?! Dan bagaimana cara mencari passion?!

Diagnosis bipolar disorder

Saya kemudian ketemu psikiater kedua. Kali itu saya langsung didiagnosis bipolar disorder. Tapi, obatnya nggak cocok. Selama 6 bulan, saya berganti obat sampai 3 kali, masih juga mood naik-turun. Saya mulai curiga, diagnosis yang beliau berikan pada pertemuan pertama itu keliru. Memangnya kondisi saya, apa pun itu, bisa langsung ketahuan? Sepintar itukah beliau?

Keraguan saya seakan disambut oleh semesta. Nggak seberapa lama, sang psikiater pindah ke Jakarta. Saya berhenti berobat.

Selang 2 tahun, masalah saya masih sama saja. Hidup saya dikendalikan total oleh mood. Lepas kendali rasanya. Saya bahkan mencoba bunuh diri untuk ketiga kalinya.

Lalu, saya bekerja di Inmotion v2. (Kantor ini pecah kongsi, dan saya ikut salah satu bosnya.) Posisi saya cukup unik. Saya jadi game designer walau nggak ngerti sama sekali soal game design. Saya juga sendirian mengisi divisi game design, nggak ditemani supervisor atau game designer senior. Saya perlu belajar dari nol sembari mengatur tugas-tugas untuk diri sendiri sembari bekerja dengan divisi-divisi lain. Mulailah fokus saya bermasalah.

Diagnosis ADHD

Saya ketemu psikiater ketiga di RS Melinda 2. Yang ternyata adalah mahasiswi dari psikiater kedua (yang pindah ke Jakarta).

Di pertemuan pertama beliau berkata, “Saya curiga kamu ADHD. Ini masih tentatif. Bukan diagnosis.” Saya dikasih obat. Yang ternyata cocok. Fokus saya langsung membaik. Selang sebulan, saya resmi didiagnosis ADHD.

Beberapa bulan berikutnya, saya nggak bisa tidur. Saya melek sampai subuh, lalu tidur 2-3 jam, lalu melek sampai subuh berikutnya, lalu tidur 2-3 jam… Dan seterusnya sampai 4 hari. Otak saya nggak bisa berhenti berputar. Saya menghasilkan banyak sekali ide untuk artikel blog, beberapa buku, bahkan business plan untuk sebuah toko stationery. Saat saya laporkan fenomena itu ke psikiater, beliau yakin, “Itu manik. Sepertinya kamu bipolar.” Obat ADHD langsung dihentikan. Saya dikasih 2 obat baru untuk mengatasi manik. Nggak lama, saya masuk episode depresi. Beliau langsung kasih saya 1 obat tambahan.

Mood stabil

Hingga artikel ini ditulis, saya minum 3 macam obat, semuanya untuk mengatasi bipolar disorder. Saya juga diajari melakukan cognitive behavioral therapy (CBT). Mood saya mulai stabil. Saya bisa bekerja dengan baik. Fokus masih cenderung berantakan, tapi nggak parah. Nggak sampai mengganggu kerjaan. Hidup saya belakangan memang lumayan santai, dan saya bisa memperbaiki sendiri fokus itu dengan trik semacam Pomodoro.

Psikiater bertekad melepas obat setelah saya bisa disiplin menjalani rutinitas sehat sehari-hari, termasuk makan dan tidur tepat waktu serta olahraga.

Saya beruntung saya akhirnya mendapatkan bantuan yang saya butuhkan, yang cocok untuk kondisi saya. Kalau Anda mengalami kondisi serupa dan sedang mencari bantuan, saran saya, bersabarlah. Prosesnya bisa sangat panjang dan melelahkan, tapi sungguh layak diupayakan. Semoga berhasil!

Foto kover oleh Emma Simpson (Unsplash), free license.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s