Dari Teman Jadi Kebiasaan

Kalau bisa balik ke masa lalu dan ketemu saya yang berumur 20 tahunan, saya akan memberikan satu saran saja padanya. “Hati-hati memilih teman. Kebiasaan temanmu biasanya jadi kebiasaanmu juga.”

Menurut James Clear di bukunya, Atomic Habits, manusia sejak zaman purba adalah makhluk sosial. Butuh berkumpul dengan kelompok demi bertahan hidup dan mendapat akses ke sumber daya. Yang sendirian biasanya musnah.

Hingga kini pakem ini masih berlaku.

Demi diterima oleh kelompok, kita berusaha meniru perilaku yang dianggap atraktif oleh kelompok itu.

Ada 3 macam kelompok yang kita tiru perilakunya:

  • Kelompok paling dekat
  • Kelompok mayoritas
  • Kelompok dengan kuasa

Kelompok paling dekat

Kelompok paling dekat adalah orang-orang yang berhubungan paling dekat dengan kita. Bisa jadi orang tua, adik, kakak, sepupu, atau sahabat kita.

Sadar nggak sadar, kebiasaan kita dipengaruhi kebiasaan mereka.

Saya sangat jago menjaga buku yang telah dibaca agar tetap mulus seperti baru. Semasa kecil saya sering menyaksikan tante merawat buku-buku koleksinya.

Suami saya terbiasa mematahkan sesuatu yang kecil, seperti pensil dan kabel, saat marah. Rupanya, ketika kecil dulu, dia sering menyaksikan bapaknya berperilaku serupa.

Kalau Anda pengen anak Anda gemar membaca, Anda perlu memperlihatkan padanya bahwa baca buku itu menyenangkan. Caranya, ya dengan Anda sering-sering baca buku.

Kelompok mayoritas

Kelompok mayoritas adalah mayoritas orang yang ada di lingkungan kita.

Lebih mudah mengikuti perilaku mayoritas ketimbang melawannya. Jadi, kalau Anda pengen berhenti merokok, hindari berada di tengah lingkungan perokok. Sebaliknya, Anda bakal lebih rajin bersepeda kalau bergabung dengan komunitas pesepeda.

Ini pula sebabnya, saat depresi melanda, saya langsung tutup Twitter demi berpantang berita negatif. Sebaliknya, saat pengen lebih semangat baca buku, saya intip garis waktu Goodreads.

Kelompok dengan kuasa

Kelompok dengan kuasa adalah mereka yang memiliki status sosial tinggi atau prestasi memukau. Termasuk antara lain pejabat, selebriti, atlet pemegang medali Olimpiade, atasan kita, dan orang-orang yang kita kagumi. Kita tertarik pada perilaku mereka karena kita juga ingin berprestasi seperti mereka.

Saya beruntung saya dikelilingi teman-teman yang mengagumkan. Perempuan-perempuan hebat yang berperan sebagai ibu sekaligus pekerja produktif. Mereka menginspirasi saya untuk terus belajar, bekerja, sembari menemani Juno di rumah.

Hati-hati memilih teman

Kalau Anda pengen berhemat, berteman dengan orang-orang yang rajin memangkas pengeluaran adalah keputusan yang bagus. Kalau Anda pengen jadi game developer yang aktif berkarya, komunitas Game Developer Indonesia (GDI) siap menyambut. Berlaku pula sebaliknya. Kalau bergaul dengan kaum hedonis, Anda akan terus boros. Kalau dekat dengan mereka yang menyalahgunakan narkoba, tentu sangat susah untuk nggak ikut-ikutan.

Hati-hati memilih teman. Kebiasaan teman Anda biasanya jadi kebiasaan Anda juga.

Foto kover oleh Duy Pham (Unsplash), free license.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s